Rabu, 24 Juli 2019

Pengembangan industri vulkanisir ban diklaim dapat mendorong perekonomian masyarakat

Pengembangan industri vulkanisir ban diklaim dapat mendorong perekonomian masyarakat karena banyaknya unit usaha dan industri serta tenaga kerja yang diserap.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI) Azis Pane menyatakan industri tersebut memiliki potensi ekonomi hingga Rp36,3 miliar per tahun.

"Yang terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal [BKPM] ada 258 perusahaan, tetapi sebenarnya tersebar ribuan di Indonesia, itu perlu ditertibkan dan dibina. Seharusnya pemerintah mulai menyadari bahwa ada satu sektor industri yang dilupakan," ujar Azis belum lama ini.
Ribuan unit usaha dan industri vulkanisir ban yang tersebar menurut Azis perlu dibina untuk menghasilkan ban vulkanisir yang berkualitas. Hal tersebut krusial karena kualitas ban vulkanisir menyangkut pada keselamatan penggunanya.

Menurutnya, industri vulkanisir ban tumbuh menonjol di beberapa negara, di antaranya Jerman dan Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri menurut Azis hanya terdapat dua pemain besar di Jawa Timur dan Kalimantan.

Berdasarkan data APBI, produksi ban vulkanisir pada 2017 mencapai 20,48 juta unit atau meningkat 2,95% dari produksi 2016 sebanyak 19,9 juta unit. Adapun, produksi 2016 meningkat 4,97% dibandingkan produksi 2015 sebanyak 18.956 juta unit.

Kapasitas terpasang industri tersebut pada 2017 mencapai 25,61 juta unit per tahun atau meningkat 2,95% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 24,87 juta unit per tahun. Industri vulkanisir ban dalam negeri memiliki utilitas sebesar 80%.

Kementerian Perindustrian akan menerapkan standar proses produksi ban vulkanisir yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk menjaga kualitas produk, terutama dari industri kecil dan menengah (IKM).

Ahmad Gunawan, Sekjen Asosiasi Pabrik Vulkanisir Ban Indonesia (Apvubindo), mengatakan di industri ini sebenarnya sudah ada Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, penerapannya masih sukarela dan dinilai berat dipenuhi oleh pelaku di segmen industri kecil dan menengah.

Padahal, dari sekitar 1.000 pelaku industri vulkanisir ban sebesar 80% merupakan industri kecil dan menengah. Oleh karena itu, asosiasi dan Kemenperin bekerja sama dalam penyusunan GMP yang dimulai pada tahun lalu.

"Nanti tanggal 15 Juli ini akan difinalisasi, draf kami sosialisasikan ke masyarakat umum, pengguna, produsen, dan kementerian terkait untuk mendapatkan feedback kekurangan dan kelebihannya apa. Baru kemudian diputuskan," ujarnya di Jakarta, Selasa (9/7/2019).

1 komentar:

Thousands of business units and tire retreading industries scattered according to Azis need to be fostered to produce quality retread tires.

Reply