Jumat, 20 April 2018

Vulkanisir Proses Panas (Hot Retreading) dan Proses Dingin (Cold Retreading)

Vulkanisir ban atau dikenal dengan retreading adalah proses penggantian telapak ban yang sudah aus yang bertujuan untuk menambah umur ban yang telah digunakan. Ada 2 proses pada vulkanisir yang selama ini dikenal: Proses Panas (Hot Retreading) dan Proses Dingin (Cold Retreading).

Dalam pengoperasian kendaraan dan alat berat, komponen biaya ban memegang porsi yang cukup besar, terlebih pada pengoperasian di daerah yang cukup ekstrim. Tidak heran orang berupaya untuk menekan biaya penggantian ban dengan alternatif lain seperti vulkanisir. Memang masih ada pro dan kontra penggunaan ban vulkanisir.

Di satu sisi ban vulkanisir dianggap satu-satunya pilihan untuk menekan biaya penggantian ban, namun di sisi lain penggunaan ban vulkanisir dianggap memiliki resiko tinggi karena rentan menjadi penyebab kecelakaan, disamping umur ban vulkanisir yang dianggap tidak lama. 
Terlepas dari pro dan kontra yang ada, bagi Anda yang menyetujui penggunaan ban vulkanisir, Anda perlu memahami proses vulkanisir sehingga bisa menentukan layanan vulkanisir yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Baik proses panas maupun dingin mempunyai tahapan awal yang sama, dimana ban yang akan divulkanisir dicek terlebih dahulu kondisinya untuk menentukan apakah ban tersebut bisa divulkanisir atau tidak. Jika bisa, akan ditentukan proses yang akan digunakan apakah menggunakan proses panas atau dingin (sebagai informasi, tidak semua perusahaan vulkanisir ban memiliki kemampuan melakukan kedua proses ini).
Penentuan proses yang akan dilakukan juga melihat kondisi ban, untuk ban yang kondisinya cukup baik seperti lapisan benang (casing ply) masih cukup tebal atau tidak. Jika masih cukup tebal, maka proses dingin akan dipilih. Sebaliknya, jika tidak, proses panas akan dipilih. Untuk proses panas sendiri ada 3 kemungkinan : cetakan panas (Hot Top), cetakan panas 1/2 Full dan cetakan panas Full. Selanjutnya berturut-turut dilakukan proses buffing alias pembuangan lapisan atas permukaan ban, proses skiving (pembuangan material-material tajam dengan gerinda) dan proses repairing (penambalan lubang-lubang pada ban).

Cetakan Vulkanisir Masak panas


Pada proses panas casing ban yang telah melalui proses buffing ditempel dengan karet compound (karet dalam bentuk setengah jadi yang belum memiliki pola) kemudian dimasukkan ke cetakan (moulding) melalui tekanan dari dalam ban dengan temperatur dan waktu tertentu (berkisar 150-1600 C) sampai karet compound tersebut menjadi matang dan mengeras lalu membentuk pola yang sesuai dengan pola yang terdapat pada cetakannya.


Chamber Vulkanisir Masak dingin


Pada proses dingin, casing ban hasil buffing terlebih dulu dilapisi perekat (cushion gum), yang dilanjutkan dengan penempelan karet berpola (precured) yang disusun melingkar memenuhi seluruh permukaan ban. Tahap berikutnya adalah proses curing yang dilakukan di dalam sebuah chamber (autoclave) pada suhu 95-99o C sehingga karet berpola menempel kuat. Karena suhu yang lebih rendah dari proses panas, maka proses ini disebut proses dingin.

Kelebihan dari proses dingin adalah vulkanisir bisa dilakukan sampai 4-5 kali, dibandingkan dengan proses panas yang hanya bisa dilakukan 2-3 kali. Namun perlu dicatat, biaya untuk proses dingin lebih mahal daripada proses panas karena proses yang lebih panjang., namun hal ini juga tergantung kondisi ban.

Ada sebagian orang yang meyakini vulkanisir proses dingin memiliki kualitas lebih baik daripada proses panas, hal ini tidak bisa dianggap pasti benar karena bagaimanapun kualitas hasil vulkanisir bergantung pada kualitas pekerjaan (sistem dan sumber daya manusia) dan mesin-mesin yang digunakan. Hal lain, sebaik apapun kualitas hasil vulkanisir, tidak berarti jika tidak dibarengi dengan cara penggunaan ban hasil vulkanisir yang baik dalam pengoperasian truk atau alat berat. Itulah sebabnya, dukungan dari pemberi jasa vulkanisir ban merupakan hal penting yang tidak bisa diabaikan.